wedding
  Tentang_cinta
 

Aku mencarinya. Diantara kerumunan orang dengan tujuan yang sama. Perempuan itu sedang berdiri di antara kisi-kisi pintu masuk. Kepalanya menunduk. Kusampaikan salam. Mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia menoleh. Melihat bayanganku dari sela-sela bahunya.

”Kapan kamu berangkat?” tanyaku. Ia mendesah. Kembali memandang ke depan tanpa kata-kata. Bahunya bergetar. Sepertinya ragu. Sepertinya takut.

”Apa yang kamu takutkan?” tanyaku lagi. Ia berbalik. Kedua matanya menatapku tajam. Kali ini ia benar-benar memandangku.

”Banyak sekali rintangan yang harus kulalui. Aku tak sanggup! Lebih baik aku kembali saja” Jawabnya. Aku tersenyum. Aura gelisah terpancar di wajahnya. Antara iya dan tidak.

”Rintangan itu adalah hatimu. Tidak mampukah kamu menaklukkan hatimu sendiri?” desakku. Wajah Perempuan itu memerah. Mungkin malu. Mungkin marah. Aku tak tahu pasti. Tidak berapa lama dia berbalik. Kembali memandang tanjakan tinggi di depan kami.

”Apa yang harus kulakukan?” tanyanya ragu. Aku mendekat. Menjajari tubuhnya yang menjulang di sampingku.

”Redakan egomu. Rendahkan hatimu. Berpikirlah positif. Perbesar volume nuranimu. Dengarkan dan pahami apa yang Dia minta padamu. Karena sesungguhnya Dia tidak jauh. Dia hanya sejengkal dari nadi di lehermu” jelasku. Ia kembali menghela nafas. Menunduk. Memandang debu-debu yang menutupi sepatu sportnya.

”Bagaimana kalau aku tidak mampu? Bagaimana kalau aku terjatuh?” tanyanya meragu.

”Dalam setiap perjalanan. Rintangan akan selalu ada. Mungkin kamu akan terjatuh. Mungkin kamu akan tersakiti. Kamu harus bertahan dan percaya. Karena hidup bukankah selalu begitu? Untuk bertahan dan yakin bahwa perubahan terjadi setelah usaha dan doa. Aku yakin, Dia akan membimbingmu. Bukankah kamu percaya bahwa Dia Maha tahu..” jelasku.

Ia menoleh memandangku. Mata kami bertemu. Untuk beberapa saat kami terdiam. Mata kami melemparkan beribu kata tak terucap. Aku mengulurkan tanganku padanya.

”Ikutlah bersamaku. Jikalau nanti aku terpuruk, aku ingin kamu yang menopang tubuhku. Seandainya langkahku mundur di pendakian itu, aku ingin kamu yang berada di belakangku. Menahanku. Membimbingku. Dan ketika tenagamu menipis di tengah-tengah pendakian ini, aku akan meraih tanganmu dan menarik tubuhmu. Kita akan mendaki tangga ini bersama sama” ucapku mantap. Dengan 2 kalimat syahadat aku menyambut uluran tanganmu.

Dalam perjalanan itu kami banyak berdiskusi. Tentang Al Rahim, Al Nafi, Al Ghaffur dan keseluruh 99 nama-Nya. Semakin banyak yang kami tahu, tenaga kami semakin penuh. Semakin banyak yang ia pahami, senyumnya semakin lebar. Kegelisahannya telah sirna. Walau mendung dan guntur menghalangi jalan kami, Ia tetap tersenyum.

Ya Allah Yang Maha Tahu, ridhoi langkah kami. Berbekal Al Asma Al husna-Mu, ijinkan kami menggapai nikmat dan Rahmat-Mu.didalam pernikahan kami yang engkau ridhoi
Amien.

 

 

 
  Today, there have been 4 visits (10 hits) on this page! copyright by : aicom enterprise